Seorang teman bercerita pada saya bahwa dia memohon doa pada Allah untuk diberi uang Rp 20 juta. Kemudian keesokan harinya ia dihubungi oleh seorang temannya dan ditawarkan pinjaman tanpa bunga.
Salahkah meminta uang pada Allah dengan menyebut nominalnya?
Saya kemudian berpikir, “Apakah Allah itu pelit sehingga kita berdoa menyebutkan nominal?”. Buat saya permintaan teman saya ini adalah permintaan bodoh. Makanya kemudian saya berkata pada dia, “Mungkin seandainya kamu tidak menyebut nominal, Allah bakal kasih 100 juta”.
Masalahnya adalah tidak mungkin Allah pelit. Sering kita meminta pada Allah hal-hal yang remeh. Untuk urusan rejeki, rasanya sudah cukup jika kita minta dilapangkan rejeki kita dan dimudahkan dalam mencari rejeki tersebut. Lalu untuk apa meminta nominal?
Setiap orang pasti sudah diberi porsi yang cukup. Permintaan teman saya diatas rasanya cukup merugikan dirinya sendiri. Siapa yang tahu bahwa Allah mungkin telah mempersiapkan Rp 200 juta? Namun karena ia meminta Rp 20 juta maka yang diberi hanya Rp 20 juta. Itu pun masih perlu diperjuangkan lagi.
- 03/12/2009 23:09 - Berada dimana seorang pemimpin?
- 28/11/2009 17:56 - Sebaik-baik Pengorbanan
- 11/11/2009 14:25 - Apa benar ACTION adalah kunci sukses?
- 27/08/2009 23:10 - Level Manggut dan Complong
- 05/08/2009 13:27 - Niat adalah tujuan yang tidak dapat diukur
- 19/07/2009 23:42 - 2 Langkah Awal Agar menjadi ‘Lebih Cepat, Lebih Baik’

