Pernah Anda mendapatkan suatu inspirasi hikmah dan pelajaran
dari orang yang sudah mati? Atau mungkin pertanyaan saya salah. Bukan apakah
pernah, tapi apakah sering?
Einstein, Mahatma Gandhi, Ibu Theressa, Soekarno, dll terutama para wali dan The
Greatest Muhammad SAW…adalah orang-orang yang telah memberikan penerangan pada
dunia. Yang terakhir disebut adalah cahaya di atas cahaya.
Dari sini, apakah ada yang masih mau berkata bahwa cahaya
akan padam meskipun jasadnya sudah tiada?
Memang, ada penelitian bahwa otak manusia yang terpakai
kurang dari 10%-nya. Penelitian itu ditujukan pada Albert Einstein sang maestro
ilmuwan dunia.
Pertanyaan yang menggelitik adalah dari “10%-nya”. Nah, nya
itu apa? Dan apakah bisa ditingkatkan melebihi 10%?
Keluasan berpikir memang limited. Yang unlimited adalah keluasan
merasa. Oleh karena itu sangatlah mungkin menjadi cerdas dengan melebihi
kapasitas 10% itu. Asalkan, berpikirnya dengan hati. Tambah dahsyat lagi jika
ditambahkan kerendah hatian.
Mengandalkan hipotesa & analisa dengan hanya
mengandalkan tool otak sebenarnya sering membuat kita menempatkan potensi
menjadi tidak pada tempatnya. Yang kemudian menjadikan kita impotensi.
Ambil contoh ilmu kedokteran barat sebagai manifestasi
kebanggaan mereka orang-orang barat. Lihat dengan seksama, berapa kali ilmu
kedokteran yang berbasis otak yang mengandalkan logika dipatahkan oleh ilmu
hati yang memakai rasa? Dan itu hanya salah satu contoh. Dalam dunia bisnis
& manajemen pun juga sudah terlihat.
Logika hanyalah sebagai bentuk ikhtiar. Sementara hati
sebagai bentuk penyerahan diri.
Meneruskan tulisan saya tentang potensi dan impotensi, dalam diri kita jika kita punya kebaikan maka kita punya potensi untuk menjadi betul dan baik. Namun di jaman sekarang, kebaikan yang di upload tidak pada tempatnya bisa menyebabkan perubahan potensi menjadi impotensi.
Keluwesan adalah kata kunci untuk menempatkan kebaikan pada tempatnya. Keluwesan menghindari potensi baik berubah menjadi impotensi.